Tampilkan postingan dengan label Profil Pemain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Pemain. Tampilkan semua postingan

16 Agustus 2008

Ferdinand Suka R&B


MENDENGARKAN musik menjadi kebiasaan para pemain Manchester United di ruang ganti pemain sebelum turun bertanding. Apa musik favorit para punggawa 'Setan Merah'?

Michael Carrick menceritakan selera musik rekan-rekan setimnya kepada Majalah NME. Menurutnya, jenis musik yang biasa diperdengarkan sebelum pertandingan biasanya yang bertipe beat cepat, R&B, dance atau hip-hop.

Bila berada di ruang ganti, biasanya yang memegang kendali musik apa yang diputar adalah Rio Ferdinand. Bek tengah tinggi besar itu suka memutar lagu-lagu Dr. Dre dan Snoop Dog.

Beda dengan Ferdinand, kapten Gary Neville lebih suka dengan musik dari grup lokal Oasis yang beraliran Britpop. Neville bahkan mencoba memimpin rekan-rekannya menyanyi bareng. "Ada rumor kalau dia bisa main gitar," seru Carrick.

Lantas bagaimana dengan Sir Alex Ferguson? Sesuai dengan umur yang sudah menembus angka 66 tahun, manajer asal Skotlandia itu menggemari musik-musik dari artis-artis lawas.

"Dia penggemar Frank Sinatra dan artis-artis Rat Pack (artis era 1950-an dan 1960-an--Red). Tapi dia biasanya tidak terlibat dalam pemilihan musik; kecuali sedikit marah bila mereka memutarnya terlalu kencang," kata Carrick. (dtc-Kamis, 14/08/2008)

Ronaldo Menuju Kesempurnaan


CRISTIANO RONALDO seperti sebuah definisi lain dari Manchester United di musim ini. Penampilannya di lapangan begitu dominan. Jika kesempurnaan itu ada, maka dia sedang menuju ke sana.

Ronaldo telah menciptakan banyak kisah di musim ini, dari dalam maupun luar lapangan. Di luar, misalnya, ia pernah ketahuan mengundang pelacur untuk berpesta bersama beberapa rekannya termasuk si rookie dari Brasil, Anderson.

Dari dunia "gemerlap", pemuda Portugal ini cukup doyan gonta-ganti perempuan. Setelah bubar dengan aktris Inggris Gemma Atkison, terakhir ia dikabarkan tengah menjalin hubungan istimewa dengan seorang model asal Spanyol, Nereida Gallardo, yang foto-foto topless-nya gampang diakses di internet.

Tapi itu semua adalah kehidupan pribadi seorang Ronaldo. Di lapangan ia adalah Ronaldo yang menawan di mata penonton, mengundang rasa iri sekaligus decak kagum buat pemain-pemain lain, baik kawan maupun lawan. Teknik olah bolanya sekelas penyihir, memberi kepuasan batin bagi jutaan penggemar.

Manajer Sir Alex Ferguson sudah meramalkan hal itu sejak ia direkrut pada pertengahan 2003. Sengaja atau tidak, sejak awal Ronaldo diberi nomor punggung 7, nomor beberapa legenda Old Trafford seperti George Best, Eric Cantona, Bryan Robson, sampai David Beckham.

Di musim ini, ia nyaris berada sampai di puncak. Penghargaan individu telah ia dapatkan, yakni pemain terbaik pilihan versi Asosiasi Pemain dan wartawan sepakbola setempat. 

Gelar lain yang didapatnya di penghujung musim adalah pencetak gol terbanyak Premier League. Dalam kapasitasnya bukan sebagai penyerang, Ronaldo mampu mencetak 31 gol dari 34 pertandingan, mengalahkan bomber-bomber hebat macam Fernando Torres (Liverpool), Emmanuel Adebayor (Arsenal), sampai rekannya sendiri, Wayne Rooney.

Gol terakhir ia ukir ke gawang Wigan di laga pamungkas tadi malam. Ia melakukannya dari titik putih, setelah MU diberi hadiah penalti oleh wasit. Gol penaltinya membuka kemenangan MU, yang kemudian menang 2-0 di akhir pertandingan. 

Kemenangan itu lantas memastikan MU menjuarai kompetisi. Pemain-pemain lain tentu punya andil masing-masing untuk mengantarkan "Setan Merah" ke tangga juara, tapi Ronaldo pantas dianggap sebagai pemimpi barisan kesuksesan tersebut.

Rasanya tidaklah berlebihan jika Ronaldo disebut-sebut sebagai benang merah MU dalam dua tahun belakangan. Jika dia mampu membantu MU menjuarai pula Liga Champions, maka nilai-nilai kesempurnaan buat seorang pemain bola akan semakin melengkapi Ronaldo.

"Well, teman-temanku sangat membantu. Mereka memberiku umpan-umpan dan kepercayaan yang besar -- dan aku mencetak gol. Aku punya sebuah sebuah kesempatan untuk menceak gol, dan aku berhasil," ujar pemain berusia 23 tahun itu seusai kemenangan atas Wigan.

"Tapi aku rasa Anda perlu membicaran tim ini. Aku pikir tim ini bermain sangat baik dan pantas menang. Kami punya pemain-pemain terbaik dan tim terbaik di Premier League," tambahnya. (dtc-Senin, 12/05/2008)

Scholes, Jahe Rasa Cabe Rawit


GINGER atau jahe, begitulah julukan yang melekat pada Paul Scholes di Manchester United. Dengan aksi-aksi plus akurasi tendangan jarak jauhnya, dia adalah jahe dengan rasa menyengat cabe rawit.

Ukuran tubuh yang agak mini untuk pemain bola, plus warna kulitnya bule kemerah-merahan, mungkin jadi salah satu alasan kenapa Scholes dijuluki ginger. Namun seperti banyak pesepakbola mungil namun punya skill wah, gelandang serang yang satu ini juga masuk dalam kriteria tersebut.

Dengan usia yang sudah 33 tahun, Scholes jelas masuk kategori pemain tua, apalagi di klub seperti Manchester United. Tentu tak salah masih mengandalkan pemain senior, dan Sir Alex Ferguson pastinya punya pertimbangan yang lebih bagus saat memasang Scholes ketika menghadapi Barcelona di semifinal Liga Champions midweek lalu.

Bukan Cristiano Ronaldo, Carlos Tevez atau Nani yang jadi bintang sekaligus pahlawan kemenangan MU. Tendangan jarak jauh Scholes dari luar kotak penalti menjadi satu-satunya gol yang tercipta dalam dua leg laga tersebut sekaligus memberi "Setan Merah" tiket final Liga Champions pertama sejak 1999.

Tendangan cannon ball sudah menjadi salah satu trade mark Scholes sejak kemunculannya di skuad MU seior di awal 1990-an. Dengan kelebihannya yang satu itu dia kerap jadi pemupus kebuntuan lini depan MU.

Jumlah gol yang dicetak Scholes selama semusim memang banyak menurun dibanding empat atau lima tahun lalu. Tapi dari jumlah yang sedikit tersebut, pemain bernama lengkap Paul Aaron Scholes itu tetap memainkan peran sebagai penguasa lapangan tengah dengan sangat baik.

Scholes punya banyak keistimewaan lain di samping tendangan jarak jauh dengan akurasi tinggi itu. Pemain bertinggi 170 cm itu kini adalah operator mesin Manchester United.

Dia tak lagi menjadi gelandang serang murni seperti saat masih bertandem dengan Roy Keane. Dengan umpan kedua kaki yang sama bagus, plus passing jarak pendek dan panjang yang sangat oke, Fergie memplot Scholes sebagai holding midfielder, peran yang ternyata mampu dilakoni dengan baik olehnya.

Karena kemampuan itulah Sven Goran Eriksson dan Steve McClaren sempat meminta Scholes kembali ke timnas Inggris meski kemudian kekeuh ditolak sang pemain. Usai gelaran Euro 2004 lalu dia memilih memfokuskan diri pada The Red Devils, klub yang hingga kini sudah dibelanya sebanyak 393 pertandingan selama 15 tahun.

Kalau pemain muda MU kemudian menghormati Scholes, itu pastinya bukan hanya karena usia yang lebih senior. Faktanya Scholes memang bersahaja di dalam dan di luar lapangan. Menurut penuturan Rio Ferdinand, Scholes adalah satu-satunya pemain yang belum pernah mendapat "hair-dryer treatment" dari Fergie. (dtc-Senin, 05/05/2008)

Rasa Aman dari Vidic


RIO FERDINAND menjadi tembok kokoh pertahanan Manchester United sejak 2002. Mulai tahun lalu punggawa "Setan Merah" bisa merasa lebih aman dengan adanya Nemanja Vidic.

Kalau nama Vidic masuh dalam daftar Team of The Year versi PFA, itu cuma salah satu pembuktian kalau bek Serbia itu memang punya kemampuan sebagai defender dengan nilai di atas rata-rata. 

Keberhasilan MU bertahan di puncak klasemen dan melangkah ke semifinal Liga Champions jelas tak bisa dilepaskan dari peran bek yang dibeli dari Spartak Moscow dengan nilai 7 juta poundsterling itu. Duet kokohnya bersama Ferdinand membuat gawang MU baru kebobolan 21 kali dari 36 pertandingan di Liga Inggris.

Dengan fisik kokohnya, Vidic kini disebut sebut sebagai bek tengah terbaik di Inggris, bahkan Eropa. Tak cuma hebat dalam bertahan, pemain yang kerap disapa Vida itu beberapa kali ikut membantu serangan dan tentunya mencetak gol lewat umpan bola mati. 

Sejak datang ke Old Trafford pada Januari 2006, total sudah lima gol dia donasikan buat The Red Devils.

Tahun 2005 Vidic dianugrahi pemain asing Serbia terbaik dalam sebuah polling terhadap 16 kapten klub yang berlaga di Liga Serbia, anugrah yang kembali diraihnya tahun 2007 lalu. Pemilihan Vidic sebagai anggota Team of The Year PFA tahun ini merupakan kali kedua dia masuk daftar tersebut setelah yang pertama tahun lalu.

Awal musim ini Vidic juga berada dalam daftar UEFA European Club Defender of the Year yang berlanjut dengan penghargaan FIFPro World XI. Dengan torehan seperti itu tak salah rasanya kalau MU sudah menyodori kontrak baru berdurasi dua tahun hingga 2012 meski kontrak lamanya baru habis 2010. (dtc-Rabu, 30/04/2008)

Giggs Timbang Mundur


RYAN GIGGS akan selalu dikenang bagi pecinta Manchester United. Namanya tertoreh dalam berbagai lembaran rekor. Tidak hanya bermain setiap musim sejak memulai karier pemain, lebih prestisius lagi, Giggs merupakan pemegang rekor jumlah penampilan terbanyak bagi MU mengalahkan torehan 758 milik Sir Bobby Charlton. 

Pria kelahiran 29 November 1973 itu juga pelayan yang baik. Giggs memegang rekor pembuat assist terbanyak dengan catatan 289 kali. Belum cukup sampai di situ, ia juga menjadi pemain paling bergelimang gelar di Inggris Raya. Sebanyak 20 gelar kejuaraan utama berhasil di koleksi dan ia merupakan satu dari enam pemain Inggris yang berhasil merebut dua gelar Liga Champions. 

Namun semuanya itu ada akhirnya. Dengan usia 34 tahun, kapten kedua setelah Gary Neville di MU itu tidak luput mempertimbangkan kapan dirinya akan gantung sepatu alias pensiun sebagai pemain. Dan, pemikiran itu tidak hanya berlaku untuk musim ini, melainkan sudah terngiang dibenaknya paling tidak dalam dua tahun ke belakang. 

Uniknya, pemikiran pensiun itu sama sekali tidak mengganggu konsentrasi namun justru memotivasi dirinya untuk lebih baik dan lagi. Anggapan setiap musim yang dijalani merupakan musim terakhir mampu melecut kemampuan maksimal dari The Welsh Wizard.

Untuk musim ini, pemegang lisensi kepelatihan A dari UEFA itu mengusung ambisi mempertahankan trofi Liga Champions atau bahkan mengulang kenangan manis treble winners seperti 1999 sebelum tutup karier.

Jika apa yang dicita-citakan Giggs berjalan sempurna maka MU tercatat sebagai klub pertama yang mampu mempertahankan Liga Champions sejak berformat seperti sekarang ini. Terakhir kali dicatat AC Milan yang merengkuhnya pada 1989 dan 1990. 

“Dalam dua musim terakhir saya selalu menjalani kompetisi seakan inilah musim terakhir. Saya bertambah muda. Motivasi saya yakni bertahan dalam tim dan meraih gelar juara karena pengalaman manis seperti musim lalu ingin terulang lagi dan lagi,” kata Giggs kepada Associated Press (AP). Memenangkan gelar, itulah yang memotivasi saya.” 

Ada ungkapan ‘merebut lebih mudah dibanding mempertahankannya’. Ungkapan itu tentunya juga dipahami oleh mantan kapten Timnas Wales itu. Giggs berkata: “Seluruh tim melakukan perbaikan dengan mendatangkan pemain baru dan itu adalah tantangan yang Anda harus hadapi. Sangat sulit mempertahankan trofi Liga Premier. Tahun ini tiada bedanya.” 

Giggs tercatat ambil bagian dalam keberhasilan MU mengoleksi 10 gelar premiership sejak dua dekade terakhir. Semangatnya juga besar menutup karier dengan trofi-trofi lain termasuk Liga Champions.

“Tidak ada yang mampu mempertahankan gelar juara sejak berformat Liga Champions. Itulah mengapa sangat brilian jika kami mampu mewujudkannya,” pungkas winger kidal itu. (lbc)

15 Agustus 2008

Gelar Kehormatan dari Ratu Elizabeth II untuk Giggs


LAGA tandang kontra AS Roma dalam lanjutan Liga Champions, dinihari esok (WIB), tidak memberi pengaruh bagi Manchester United. Karena itu, kapten utama Ryan Giggs tidak dibawa serta oleh manajer Sir Alex Ferguson ke Stadio Olimpico, Roma.

Namun dibalik itu ada momen khusus yang tidak akan pernah dilupakan bagi winger veteran MU yang berjuluk The Welsh Wizard. Tepat di hari Selasa, 11 Desember (waktu setempat), Giggs menerima gelar kehormatan Officers of the Order of the British Empire (OBE).

Gelar kehormatan atau tepatnya gelar bangsawan itu dikeluarkan resmi oleh Kerajaan Inggris bagi setiap insan terpilih di bidangnya masing-masing yang memberi kontribusi besar bagi negara dan masyarakat luas. Untuk Giggs, tentunya OBE diberikan atas dedikasinya di cabang sepakbola. Satu pesepakbola yang tahun lalu menerima gelar serupa adalah gelandang elegan Timnas Inggris dan Liverpool, Steven Gerrard.

Giggs, 34 tahun, disematkan badge OBE langsung oleh Ratu Elizabeth II di Istana Buckingham. Setelah menerima gelar tersebut, seperti dikutip Goal, Giggs menyatakan: “Hari ini adalah hari yang sangat membanggakan buat saya dan seluruh keluarga.”

Giggs tidak bisa dipungkiri merupakan satu dari sekian pesepakbola tersukses dalam dua dekade terakhir. Memulai karir pro sejak 1991, sebanyak 23 gelar juara telah berhasil direngkuh pemilik nama lengkap Ryan Joseph Giggs. Sembilan di antaranya adalah gelar juara Liga Premier Inggris—pemain terbanyak dalam sejarah persepakbolaan Inggris. Itu belum termasuk satu gelar juara Liga Champions di tahun 1999.

Catatan panjangnya sebagai pemain membuatnya tercatat telah bermain sebanyak 736 partai bersama The Red Devils. Itu berarti, Giggs tinggal membukukan 19 pertandingan guna melewati rekor penampil terbanyak bagi MU yang dipegang Sir Bobby Charlton dengan 754 partai. Gol ke gawang Derby County, Sabtu lalu, menjadi gol ke-100 baginya di liga. Prestasi fenomenal bagi seorang pemain yang belum pernah sekalipun tampil di dua kejuaraan utama di kancah internasional, Piala Dunia dan Piala Eropa.

Giggs yang rendah hati merasa canggung dengan gelar tersebut. Ia sampai harus membutuhkan nasihat Ferguson untuk menerimanya. “Dia (Ferguson) telah dua kali memiliki pengalaman seperti ini dan dia hanya mengatakan ‘enjoy saja!’,”imbuh Giggs. “Saya beruntung karena bermain dengan klub besar dan dipercaya untuk waktu yang lama. Saya juga beruntung memiliki karir yang terbilang sukses.” Selamat Giggs! (zbc-Rabu, 12 Desember 2007)

Cristiano dan Fenomena Brasil


BERAPA pemain asal Brasil yang tampil di Liga Primer Inggris? Kalau Anda cukup cermat mengamati liga paling populer di Benua Asia ini, pasti mudah menjawabnya karena mereka tak lebih dari jumlah jari tangan. Ya, para "penari Samba" hanya lima orang. Di Bahrain atau Uni Emirat Arab saja, jauh lebih banyak pemain Brasil ketimbang di Premiership.

Dalam artikelnya yang dimuat di majalah World Soccer, edisi Mei 2007, koresponden harian Brasil O'Globo di Inggris, Fernando Duarte, memaparkan fenomena ini dengan bahasan yang menarik. Menurut Duarte, banyak hal yang membuat pemain Brasil enggan bermain di Premiership, namun hal yang paling dominan adalah adanya perbenturan budaya.

Secara spesifik Duarte menyebutkan, faktor bahasa dan makanan membuat pemain seperti Ronaldinho tak begitu memedulikan tawaran cantik Manchester United saat dia masih bermain untuk Paris St Germain. Pemain terbaik dunia itu lebih memilih hijrah ke Barcelona, yang secara budaya, tak terlalu jauh berbeda dengan negeri kelahirannya.

Memang, eksodus pemain-pemain Brasil ke Eropa barat yang terjadi sejak awal 1980-an mengecualikan Inggris sebagai negara tujuan. Jika Portugal dan Spanyol menjadi negara paling favorit bagi para talenta Brasil, hal itu sangat bisa dimengerti karena faktor bahasa dan kerapatan kultur secara umum. Namun negara seperti Italia, Perancis, dan Jerman ternyata juga menjadi pengimpor besar bintang-bintang Brasil. Meski bahasa tetap menjadi kendala, negara-negara itu menyediakan makanan yang lebih kurang masih sesuai dengan lidah Brasil.

Lantas pertanyaannya, apakah memang hanya sekadar kendala bahasa dan makanan, sehingga saat ini hanya ada lima pemain Brasil di Premiership? (Mereka adalah Gilberto Silva, Denilson, Julio Baptista [Arsenal], Fabio Aurelio [Liverpool] dan Fabio Rochemback [Middlesbrough]).

Faktor tingginya pajak di Inggris bisa jadi membuat para pemain Brasil enggan, meski klub seperti MU atau Chelsea pasti tak segan merogoh kocek 120.000 pound sepekan, misalnya, untuk menggaet Kaka dari AC Milan atau Diego dari Werder Bremen. Sangat boleh jadi, faktor iklim yang selalu basah di Inggris dan ritme permainan yang begitu cepat di Premiership membuat begitu banyak bintang Brasil akhirnya lebih melirik negara lain.

Jika faktor iklim dan cuaca dikesampingkan, satu-satunya kendala bagi para pemain Brasil memang cara bermain klub-klub Inggris yang temponya supercepat. Hanya beberapa pemain, terutama Gilberto Silva, yang mampu beradaptasi dengan sistem itu, dan dalam dua musim terakhir dia menjadi andalan "The Gunners". Sementara Baptista mulai menemukan iramanya, para Brasil lain masih sibuk menyesuaikan diri. Aurelio dan Denilson misalnya, lebih banyak duduk di bangku cadangan.

Fenomena Cristiano
Fenomena Gilberto Silva dan Baptista tampaknya memang masih akan lama memberi dampak kepada ketertarikkan para Brasil terhadap Premiership. Namun, sebenarnya ada fenomena lain yang membuktikan, pace yang begitu tinggi di sepak bola Inggris ternyata bisa diadaptasi dengan mulus oleh pemain-pemain dengan "talenta emas Brasil".

Nama Cristiano Ronaldo harus disebut dalam konteks ini karena pemain asal Portugal tersebut memberikan pengertian lain pada bagaimana terjadinya percampuran yang pas antara keindahan ala Brasil dan kecepatan ala Inggris. Kemampuan mengolah bola mantan pemain Sporting Lisbon ini bahkan sedikit di atas, katakanlah Robinho (Real Brasil), atau bahkan Ronaldinho.

Pada tahun-tahun pertamanya di Old Trafford, banyak yang meragukan kemampuan Cristiano beradaptasi dengan pasukan "Setan Merah". Dia banyak diejek karena "hanya mampu menari tapi tidak bermain bola secara tim". Hanya perlu waktu satu tahun, Cristiano membalikkan semua teori. Selepas Piala Eropa 2004, dia mulai memberikan energinya pada permainan MU. bahkan, selepas Piala Dunia 2006, pemain kelahiran Funchal, Portugal 5 Februari 1985 itu, menjadi "roh" bagi United.

Perannya yang sangat besar membawa United memuncaki Liga Inggris sejauh ini, membuat Cristiano layak diunggulkan sebagai calon kuat perebut gelar Pemain Terbaik Dunia untuk sejumlah versi. Jalan ke arah sana telah dirintisnya dengan memenangi dua penghargaan sekaligus dari asosiasi pemain bola profesional Inggris (PFA).

Sebelum Cristiano meroket ke langit, fenomena lain sebenarnya sudah diusung Thierry Henry. Bintang asal Perancis yang menjadi jiwa Arsenal itu adalah satu dari sedikit pemain "bertalenta Brasil" yang sukses besar di Inggris. Henry mampu memadukan kecepatan dan keterampilan teknisnya untuk membawa Arsenal merajai Liga Inggris di tahun-tahun awal milenium ketiga.

Dibandingkan dengan Kaka atau Ronaldinho, gugatan terharap Henry adalah kemampuannya dalam peran sebagai pengatur irama permainan. Tidak seperti Kaka atau Ronaldinho yang sanggup menjadi pengatur tempo, Henry hanya dinilai sebagai striker sejati dengan naluri mencetak gol luar biasa.

Meski begitu, gugatan yang sama sulit dilayangkan kepada Cristiano. Walaupun lebih banyak beroperasi di sisi sayap, pemain ini secara tidak langsung selalu memainkan peran sebagai playmaker. Daya jelajahnya yang mendekati 11 kilometer per pertandingan, membuat "Brasil made in Portugal" ini mengungguli pamor Kaka dan Ronaldinho, dua Brasil asli. (zbc-Jumat, 27 April 2007)

Cristiano 'Rocket' Ronaldo Tercepat di Liga Inggris


BICARA mengenai kecepatan, Liga Premier Inggris memang dikenal memiliki karakter yang satu ini. Walau tidak lagi mengadopsi pola umpan-umpan jauh secara polos, gaya main kick and rush yang membutuhkan kecepatan dan stamina prima tetap melekat di klub-klub dan Timnas Inggris.

Lalu pertanyaannya, siapa pemain tercepat di level terelite atau premiership? Salah satu media olahraga di Inggris, Sky Sports dan OPTA Sportsdata yang merupakan penyedia data performa olahragawan mengukur kecepatan maksimal dari setiap pemain dari sejumlah pertandingan yang dimainkan. Keduanya bekerjasama dengan penyedia perlengkapan olahraga, Nike.

Ada dua kategori yang menjadi ukuran. Kecepatan tanpa bola dan saat menggiring bola. Untuk kategori pertama, winger Manchester United, Cristiano Ronaldo tampil sebagai yang tercepat. Kecepatan maksimalnya mencapai 20,9 mil/jam atau 33,6 km/jam. Untuk kategori kedua Ronaldo juga terdepan dengan catatan waktu 20.8 mil/jam atau 33,4 km/jam. Jadi tidak salah jika bintang asal Portugal itu dijuluki Rocket Ronaldo.

Cristiano Ronaldo memang memiliki kecepatan tinggi sebagai pemain yang biasa beroperasi di sayap. Jadi, tak salah bila media di Inggris menobatkan pemain Manchester United itu sebagai pemain tercepat di kompetisi terbaik di Eropa itu.

Di posisi kedua ditempati striker Everton, Andrew Johnson. Untuk urusan top speed tanpa bola Johnson mencatat 33,1 km/jam. Menarik karena kecepatan maksimal striker internasional Inggris itu justru didapat ketika menggiring bola, yaitu 33,3 km/jam.

Tukang gedor Liverpool, Fernando Torres berada di urutan ketiga dengan catatan 32,9 km/jam dan 33,1 km/jam. Di posisi keempat dan kelima ditempati Kenwyne Jones (Sunderland) dan Ashley Young (Aston Villa). Urutan didasari dari akumulasi kecepatan dua kategori dan data dikeluarkan per pekan.

Berikut 10 pemain tercepat di Liga Premier (km/jam):
1. Cristiano Ronaldo—Man Utd: (33,6) dan (33,4)
2. Andrew Johnson—Everton: (33,1) dan (33,3)
3. Fernando Torres—Liverpool: (32,9) dan (33,1)
4. Kenwyne Jones—Sunderland: (33,3) dan (32,5)
5. Ashley Young—Aston Villa: (32,8) dan (32,6)
6. Aaron Lennon—Tottenham: (33,1) dan (31,5)
7. Cameron Jerome—Birmingham: (32,6) dan (32,3)
8. Shaun Wright-Phillips—Chelsea: (30,4) dan (34,1)
9. Jermain Defoe—Portsmouth: (32,8) dan (30,8)
10. David Bentley—Blackburn: (32,1) dan (31,8)

* (Tanpa bola) dan (dengan bola).

(zbc- Rabu, 13 Februari 2008)

12 Agustus 2008

Dewasalah, Nani


BAKAT yang dimiliki seorang Luis Nani memang sudah tidak diragukan. Tetapi dari sisi kedewasaan, Nani masih jauh. Karenanya, Sir Alex Ferguson meminta Nani lebih matang musim ini.

Soal kemampuan, Nani bahkan dibandingkan dengan Cristiano Ronaldo. Nani, yang sama dengan Ronaldo juga berasal dari Portugal, digadang-gadang bakal mencapai level sehebat seniornya tersebut.

Barangkali, bila masih ada yang harus diperbaiki dari seorang Nani adalah sisi mentalnya. Ketidakmampuannya menahan emosi bisa jadi bumerang merugikan bagi Manchester United. Contoh perilaku tak terpuji Nani adalah ketika ia menanduk Lucas Neill dan berakibat melayangnya kartu merah untuk dia.

Akibat kartu merah tersebut, Nani dipastikan takkan bisa memperkuat MU di dua laga pertama Premier League yang akan dimulai akhir pekan ini.

Musim ini, Ferguson tak sekadar mengharap Nani meningkatkan performanya secara teknis semata. Manajer MU itu juga meminta bintang muda berusia 22 tahun miliknya itu untuk mematangkan emosinya.

"Nani sudah melalui proses yang sama dengan yang dilalui oleh semua pemain muda. Anda akan melihat peningkatan performa dari musim pertamanya," kata Fergie kepada Manchester Evening News dan dikutip Goal.

Artinya, Nani ditantang untuk melewati capaiannya musim silam. Di tahun pertamanya di 'Setan Merah' itu, Nani tampil sebanyak 37 kali dan menyumbangkan empat gol bagi MU di segala ajang.

"Kematangannya harus membaik--itu sesuatu yang penting. Dia masih muda, tetapi bila dia bisa berkembang, dia akan jadi bakat yang sangat hebat. Dia punya keberanian dan kecepatan. Dia bisa bermain dengan kedua kaki serta tidak mudah luluh dalam pertandingan besar," pungkas Fergie. (dtc)