Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi. Tampilkan semua postingan

16 Agustus 2008

'Kaki Kanan' Beckham Menurun ke Romeo


DENGAN tendangan bebas dari kaki kanannya, David Beckham memikat dunia. Kemampuan mengeksekusi bola mati itu ternyata menurun pada salah satu anaknya, Romeo.

Kemampuan Romeo melepaskan tendangan bebas melewati tembok pemain dan berujung terciptanya gol diketahui saat dia bermain sepakbola di sekolahnya belum lama ini. Menggunakan seragam LA Galaxy bernomor 23, Romeo menunjukkan kalau bakat sepakbola sang ayah menurun padanya.

Sepakan bocah lima tahun itu disebut-sebut akan mengingatkan kita dengan tendangan bebas Beckham ke gawang Yunani yang kemudian meloloskan Inggris ke Piala Dunia 2002. Bukan itu saja, gaya tubuh Romeo saat melepaskan tendangan bebas juga sangat mirip dengan apa yang dilakukan Becks.  

"Tendangan bebas Romeo luar biasa -- itu benar-benar terlihat seperti ayahnya. Bentuk tubuhnya (saat melakukan tendangan bebas) benar-benar identik dengan apa yang dilakukan David," ungkap seorang yang menyaksikan pertandingan tersebut seperti diberitakan TheSun.

Suatu ketika Beckham sempat mengatakan kalau tendangan bebasnya ke gawang Yunani adalah yang terbaik yang pernah dia ciptakan. Kalau begini, mungkin timnas Inggris sudah mendapatkan Beckham baru yang tak lain adalah Beckham Jr. (dtc-Jumat, 08/08/2008) 

15 Agustus 2008

Menggapai Mimpi di ‘Teater Impian’ Old Trafford


SEBAGAI klub dengan tradisi panjang dan prestasi besar, Manchester United memang punya kelas tersendiri di kancah sepakbola dunia. Stadion mereka yang megah, Old Trafford, menggaungkan keagungan klub yang lahir tahun 1878 tersebut. Berdiri anggun di tepi Sungai Irwell, Old Trafford memang sebuah teater impian.

Dibuka pada tahun 1910 dengan memakan total biaya 60.000 pound, Old Trafford terus berkembang sebagai stadion dengan kelas tersendiri. Stadion yang didesain oleh arsitek kondang asal Skotlandia, Archibald Leitch, itu pernah mengalami kehancuran parah saat Perang Dunia II. Selama tiga tahun, antara 1946 hingga 1949, United pindah ke Maine Road, kandang tim rival sekota, Manchester City.

Namun setelah dibuka kembali pada tahun 1949, Old Trafford terus menyusui masa-masa kejayaannya. Sebagai stadion, masa keemasan Old Trafford dimulai pada tahun 2000, atau setahun setelah Sir Alex Ferguson dan kapten Roy Keane mempersembahkan gelar treble untuk pertama kalinya. Menelan biaya 30 juta pound, Old Trafford terus meningkatkan kapasitasnya menjadi 68.000 kursi, plus sejumlah suites untuk menghargai jasa para pahlawannya.

Tahun 2005, manajemen Setan Merah kembali merogok kocek, tak tanggung-tanggung, 45 juta pound. Selain untuk memperbesar kapasitasnya menjadi 76.212 tempat duduk, dana sebesar itu dipakai untuk membangun 5.000 kursi eksklusif di tingkat tiga sisi utara untuk melayani para sponsor.

Di sisi utara itulah, persis di atas museum yang merekam sejarah kehebatan United, berdiri Platinum Lounge, suite paling bergengsi di Old Trafford. Seperti namanya Platinum, areal seluas kurang lebih 500 meter persegi itu dikhususkan bagi para sponsor utama United, yang membiayai hampir 50 persen kebutuhan finansial klub.

Kompas mendapat kesempatan amat langka masuk ke Platinum Lounge berkat jasa Air Asia, salah satu sponsor utama United. Dua jam sebelum partai United versus Blackburn, Sabtu lalu, lobi Platinum Lounge telah dipenuhi perwakilan dari perusahaan terkemuka: selain Air Asia, perusahaan penerbangan bertarif rendah yang bermarkas besar di Malaysia, hadir sejumlah perwakilan dari sembilan perusahaan lain yang berkategori "platinum" di Old Trafford. Mereka adalah aparel asal AS: Nike, pabrikan otomotif asal Jerman: Audi, perusahaan asuransi asal AS: AIG, produsen bir Budweiser, Tourism Malaysia, Betfred, Century Radio, agen tiket Viagogo, dan perusahaan properti Royal Resort.

Setiap perusahaan kategori platinum ini berhak atas delapan kursi dan mendapat pelayanan amat istimewa sejak masuk lobi. Seluruh minuman dan makanan, baik sebelum, selama dan setelah pertandingan, disediakan dengan standar kelas premium.

Namun bukan hanya pelayanan yang kelas satu di Platinum Lounge yang membuat tempat itu begitu istimewa. Tiap pekan, saat United main kandang, beberapa legenda United hadir menjadi "tuan rumah" di sana.

Sabtu lalu, dua legenda besar United, Dennis Irwin dan Lou Macabi, berkesempatan menjadi host. Sebagai tuan rumah, keduanya menjalankan tugas dengan sangat profesional. Setiap tamu orang per orang, disapa dengan ramah dan hangat, jauh dari kesan berbasa-basi.

Irwin, yang sejak hijrah dari United sempat bermain untuk Wolverhampton bersama Paul Ince, ternyata juga seorang analis ulung. Saat diminta memberikan prediksi, mantan bek kiri terbaik di Eropa ini mengatakan, pasukan Alex Ferguson akan menang dengan selisih lebih dari dua gol.

Irwin hanya tersenyum saat United ketinggalan 0-1 di babak pertama. "We will win!" ujarnya singkat. Benar saja, Cristiano Ronaldo tampil memikat dan United menekuk Blackburn 4-1. (zbc-Kamis, 5 Apr 2007)

Merah, Warna Sang Juara


TENTUNYA, bagi para pesepakbola, pemberian kartu merah dari sang pengadil adalah hal yang paling dihindari. Maklum, ganjaran kartu merah berarti si pemain mau tak mau harus meninggalkan lapangan pertandingan.

Meski demikian, dalam konteks persepakbolaan di Inggris, warna merah tidak selalu identik dengan bahaya atau hukuman. Justru, warna merah memberikan keuntungan.

Satu riset atau penelitian yang cukup mendalam terkait kostum tim yang bewarna merah menunjukkan tingkat kesuksesan yang lebih banyak dibanding tim-tim yang berkostum selain warna merah, misalnya kuning, putih, atau biru.

Seperti yang dilansir harian The Times Online, penelitian yang dimaksud dilakukan para ilmuwan di Universitas Durham dan Plymouth. Dari hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Sports Sciences itu, respon biologis ’yang mendalam’ dari warna kostum mempengaruhi atau berkaitan dengan unjuk kinerja tim.

Para ilmuwan tersebut melakukan penelitian terhadap hasil-hasil pertandingan di kompetisi persepakbolaan Inggris sejak masa Perang Dunia II. Yang dianalisis adalah bagaimana performa tim saat bertanding di kandang sendiri dengan menggunakan kostum utamanya.

Hasilnya, dari 68 tim yang dianalisis, tim-tim yang mengenakan kostum merah lebih banyak meraih kemenangan saat pertandingan dilangsungkan di kandang sendiri. Sebaliknya, tim-tim yang kostum utamanya—pastinya dipakai ketika bermain di kandang sendiri—di luar warna merah mempunyai rekor terburuk (paling sedikit meraih kemenangan).

Dari penelitian itu pula dapat diketahui, bahwasanya ketika bermain di kandang lawan (away), ketika tim biasanya mengenakan kostum yang bervariasi—di luar kostum utama—faktor kostum yang dikenakan tim tidak menunjukkan (hasil) perbedaan yang signifikan. Hasil penelitian itu pun memberi kesan tim-tim yang bermain di ajang Olimpiade dengan mengenakan kostum merah lebih sukses.

Pada dasarnya, warna merah lebih kerap dihubungkan dengan tampilan dan agresivitas laki-laki, seperti tingginya kadar testosteron. Karenanya, tanpa disadari, tim-tim yang mengenakan kostum merah kerap dianggap lebih kuat dan mampu mengintimidasi tim-tim lawan. ”Kami mempunyai sejumlah kemungkinan untuk menjelaskan fenomena tersebut,” kata Profesor Robert Barton dari Universitas Durham.

”Pertama, selama ini, para suporter klub lebih tertarik dengan klub-klub yang biasanya memakai kostum merah sebagai kostum utamanya. Kedua, ada dorongan psikologis positif dengan memakai kostum warna merah yang direfleksikan (ditunjukkan) dengan kinerja tim di lapangan. Menghadapi tim-tim berkostum merah bisa jadi merusak (menurunkan) performa tim-tim lawan,” terang Barton.

Setidaknya, hasil penelitian Barton dkk itu punya korelasi dengan apa yang terjadi dalam persepakbolaan Liga Premier. Dari empat tim elite (big four) tiga tim di antaranya mengenakan kostum kebesarannya (utama) bewarna merah. Yaitu, Arsenal, Manchester United, dan Liverpool. Jadi musim ini milik The Gunners atau The Red Devils? (zbc-Rabu, 12 Maret 2008)

Jadi Fans United karena Smith


KEVIN COSTNER dengan bangga menyebut dirinya sebagai pendukung Arsenal. Sylvester Stallone malah mengenakan atribut Everton lengkap saat menyaksikan laga klub sekota Liverpool itu di Goodison Park pada awal tahun ini.

Kini, "virus" itu menular kepada Justin Timberlake. Solois pria yang tengah berada di puncak karir itu juga dengan lantang memproklamirkan diri sebagai suporter Manchester United.

Padahal, sebagaimana halnya Costner, Stallone, dan mayoritas warga Amerika Serikat, Timberlake sebelumnya juga tak akrab dengan sepak bola. Tapi, sebuah pertemuan tak disengaja dengan striker Manchester United Alan Smith di Hotel Lowry, Manchester, beberapa bulan lalu mengubah segalanya.

Perlahan tapi pasti, pertemanan dengan Smith yang terjalin sejak saat itu menuntunnya pada kecintaan terhadap sepak bola. "Saya fans berat Red Devils! Saya berteman dengan Smith. Jadi, dialah pemain favorit saya. Saya juga suka (Cristiano) Ronaldo dan (Wayne) Rooney," ujar mantan anggota boyband N’Sync itu seperti dilansir The Sun.

Gara-gara pertemanan yang cukup dekat itu pula, Smith memberi Timberlake tiket nonton pertandingan di Old Trafford antara United dan West Ham bulan lalu. Itu adalah pertandingan terakhir Premier League musim 2006-2007. The Red Devils kalah 0-1 ketika itu, tapi hasil tersebut sudah tak berpengaruh terhadap kepastian United menjadi juara.

"Senang sekali melihat pertandingan dimana penontonnya sudah tak peduli lagi soal kalah atau menang. Karena, mereka datang ke stadion untuk merayakan gelar. Benar-benar pengalaman yang baru dan mengesankan bagi saya," ujar mantan pacar Britney Spears itu. 

Timberlake ternyata juga mengenal David Beckham. Mantan kekasih aktris Cameron Diaz itu yakin Beckham bakal mampu mengatrol simpati dan menggugah kecintaan publik AS terhadap sepak bola.

"Saya akan usahakan menontonnya saat bermain untuk LA Galaxy. Tapi, sudah tentu atmosfernya tidak bisa mengalahkan seperti saat menonton pertandingan Manchester United," tandasnya. (zbc-Minggu, 24 Juni 2007)

Inggris Produsen Hooligans


KEKERASAN antar-fans tidak hanya terjadi pada derby. Fanatisme mereka bisa berwujud ke berbagai hal, salah satunya ke tim nasional. Selama ini, tindakan hooliganism identik dengan suporter Inggris. Tapi, apakah hanya Inggris yang memiliki catatan kelam para pendukung sepak bolanya?

Ternyata tidak. Tapi, Jika diperingkat, Inggris tetap menjadi juara. Pada awal 960-an, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) berupaya menarik wakilnya dari turnamen klub Eropa karena maraknya aksi kekerasan suporter. Menginjak 1980-an, nama Inggris mulai disebut-sebut sebagai penghasil hooligans paling berbahaya di daratan Eropa.

Bahkan, dalam kompetisi seperti Piala Dunia atau Piala Eropa, jatah untuk suporter St George Cross lebih sedikit daripada kuota negara lain. Tragedi Stadion Heysel, Belgia, membuat Otoritas Sepak Bola Eropa (UEFA) mengambil keputusan tegas. Klub Inggris dilarang berkompetisi di tingkat klub Eropa selama lima tahun.

Suporter Liverpool dinyatakan bersalah lantaran menyebabkan kepanikan pendukung Juventus dalam final Piala Champions (cikal bakal Liga Champions). Gara-gara panik, tembok stadion runtuh dan 39 suporter Juventus tewas. Tapi, hal itu tidak membuat perkembangan hooliganism di negara lain di Eropa tak terlihat.

Namun, tak bisa dimungkiri, dalam aksinya, hooligans Italia, Hongaria, Jerman, Belanda, atau Prancis banyak menyontek pola suporter Inggris. Dalam laporan Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA), kini aksi suporter Polandia mulai menimbulkan kekhawatiran di Benua Biru. Sementara itu di Jerman, aksi hooliganism dianggap sebagai kebangkitan aliran neo-fasis.

Meskipun negara lain juga memiliki hooligans, diyakini aksi kekerasan sepak bola Inggris lebih dominan lantaran tiga alasan. Pertama, karena klaim Inggris merupakan penemu sepak bola modern. Kedua, suporter Inggris selalu tampil sebagai biang onar. Ketiga, suporter Inggris lebih suka melakukan kekerasan di level internasional. Sedangkan hooliganism di negara lain berpusat pada klub. 

Alkohol, Biang Kerok Utama Hooliganism
Kerusuhan suporter marak kembali di Eropa beberapa bulan terakhir ini. Tapi, mengapa ini bisa terjadi? Salah satu faktor utamanya adalah alkohol. Dalam kehidupan warga Eropa, minuman beralkohol identik dengan maskulinitas.

Tapi, disadari atau tidak, alkohol justru banyak memberi efek negatif dalam dunia sepak bola. Biasanya, fans yang mabuk sulit mengontrol perilaku dan ucapannya yang bisa memancing emosi kelompok lain. Kemudian, timbullah perkelahian yang bisa dalam sekejap merembet pada perusakan fasilitas umum.

Statistik jadi bukti kebanyakan hooligans belakangan ini ”berhubungan saudara” dengan alkohol. Pada 2000/2001, contohnya, 928 atau 27% pengacau yang tertangkap polisi di liga domestik Inggris dan Wales dalam kondisi dikuasai alkohol. Itu menunjukkan betapa kuatnya alkohol sebagai motor penggerak kerusuhan dalam sepak bola.

Parahnya, orang-orang Britania Raya banyak mengonsumsi alkohol sepanjang pertandingan. Wajar jika negara-negara ini jadi ”penyumbang” hooligans terbanyak. Pendeknya, hubungan antara alkohol dan kerusuhan sangat berkaitan baik dengan budaya dan juga situasi. (zbc-Rabu, 6 Desember 2006)

Not-So-Beautiful Game


KALAU saja sepak bola hanya melibatkan Pele, maka barangkali benar apa yang dikatakan legenda asal Brazil itu, "It’s a beautiful game." Sebab, Pele adalah representasi apa yang ingin ditonton orang di lapangan hijau: skill aduhai, gol-gol spektakuler, sportivitas, dan gelimangan prestasi.

Tapi sayang, sepak bola tak hanya tentang Pele. Sepak bola juga tentang suporter yang mengamuk, pemain yang baku pukul, wasit yang disuap, serta pelecehan warna kulit. Dan semua itu bukanlah virus yang baru muncul.

Pada 1314, Raja Inggris Edward II pernah melarang digelarnya pertandingan sepak bola di segenap penjuru Britania Raya. Alasannya, olahraga ini hampir selalu memicu kerusuhan penonton.

Kata dibarengi barangkali bisa menjadi kunci disini. Sebab, selama berabad-abad sepak bola tumbuh dan berkembang, luapan kegembiraan karena meraih prestasi senantiasa bertumbukan dengan teriakan kebrutalan. Dan, seringkali dua hal kontras yang bertumbukan itu berasal dari satu sumber.

Preston North End adalah contohnya. Pada awal abad ini, Preston North End adalah salah satu klub besar di Inggris. Preston bahkan tercatat sukses menjuarai edisi perdana Liga Inggris dengan status tak terkalahkan selama satu musim.

Tapi, coba tengok apa yang diperbuat beberapa suporter klub ini saat mendukung tim kesayangan mereka di sebuah laga melawan Blackburn Rovers pada 1905. Di dalam stadion, mereka sempat melakukan pelecehan seksual kepada seorang wanita berusia 70 tahun!

Sekarang mari beralih ke Argentina. Negeri ini pernah dua kali menjadi juara dunia. Negeri di ujung Amerika Latin itu juga pernah melahirkan sosok Diego Armando Maradona. Namun, pada Piala Dunia 1966, pers Inggris menjuluki para pemain Argentina sebagai "binatang" karena gaya permainan mereka yang sangat kasar.

Maradona sendiri juga bisa menjadi contoh. Dia didewakan di Napoli. Di Buenos Aires, ada gereja yang khusus dibangun sebagai tempat pemujaan kepadanya. Padahal, si "Tangan Tuhan" ini pernah begitu akrab dengan berbagai macam narkotika hingga hampir kehilangan nyawa.

Begitu banyak contoh lain bisa disebut, dari berbagai jaman, dari berbagai penjuru. Mulai intervensi diktator Benito Mussolini kepada Timnas Italia yang menjuarai Piala Dunia 1934 dan 1938, sampai kebrutalan Bonek yang baru terjadi di Surabaya. Apa boleh buat, dunia memang tak sempurna. Di dalam yang indah dan elegan, selalu ada yang apek, yang pesing, dan tak rapi. (zbc-Jumat, 15 September 2006)

Kolonialisasi dan Sepakbola Amerika Latin


KAMPIUN piala dunia 2006 memang bukan dari negara benua Amerika, tapi apa jadinya jika piala dunia tanpa kehadiran seniman-seniman bola dari negara-negara latin ini, bukan bermaksud menisbikan kehebatan negara lain terutama Eropa, tapi keindahan sepakbola akan hilang.

Tak bisa dipungkiri, bintang-bintang lapangan hijau Amerika Selatan banyak mencetak sejarah sepakbola, terutama Brazil dan Argentina. Nama-nama bintang tersebut sudah tidak perlu lagi disebutkan satu-persatu karena sudah sangat familiar diantara pecandu bola sejagat raya.

Kiranya cukup menarik jika merajut sejarah bagaimana sepakbola lahir dan dikenal di Amerika Latin. Meski sebenarnya seperti yang telah kita ketahui benua ini bukan tempat sepakbola dilahirkan.

Sejarah sepakbola Amerika Latin tidak lepas dari sejarah kolonialisasi negara-negara Eropa. Adalah Inggris, tempat dimana sepakbola lahir, yang saat itu melakukan penjajahan ke wilayah benua Amerika bagian selatan, mulai memperkenalkan sepakbola ke masyarakat setempat.

Pengenalannya terhadap masyarakat setempat dilakukan oleh orang Inggris yang berbeda tapi dengan pola sama, yaitu pendirian klub-klub sepakbola. Di Argentina, klub yang pertama kali didirikan adalah Buenos Aires F.C, Valparaiso F.C di Cili, dan di Uruguay dibentuk klub Albion F.C. Sementara itu, akhir dekade abad 19 seorang laki-laki Inggris yang lahir di Brazil, Charles Miller, memperkenalkan sepakbola kepada masyarakat Brazil.

Meski pada awalnya sepakbola hanya dimainkan secara terbatas oleh pendatang Eropa, namun bersangsur-angsur timbul ketertarikan penduduk lokal terutama para pekerja, setelah melihat para pelaut Inggris bermain bola di dok kapal. Permainan ini akhirnya menyatukan perbedaan antara pendatang Eropa dengan penduduk lokal.

Inilah yang disebut sebagai sifat alami sepakbola, yaitu bisa dimainkan oleh siapa saja dan kapan saja. Tanpa membedakan jenis kulit atau ras, kaya atau miskin, tuan atau pekerja dan karakter fisik lainnya. Kesederhanaan alat yang membuat sepakbola dengan cepat meraih popularitas.

Namun, tetap saja sejarah sepakbola Amerika Latin tidak lepas dari sikap rasis. Negara Amerika Latin selalu mempertimbangkan kehadiran pemain kulit hitam dalam skuad tim nasionalnya. Menurut sejarawan Eduardo Galeano, Uruguay adalah negara pertama yang memasukan pemain kulit hitam dalam tim nasionalnya. Mereka memasukan dua pemain kulit hitam, Isabelino Gradín dan Juan Delgado, pada pertandingan Piala Amerika pertama tahun 1916 melawan Cili.

Kehadiran dua pemain itu membuat Cili meminta pertandingan dibatalkan karena mereka menganggap Uruguay telah memakai pemain asal Afrika, tentu saja mereka keliru karena kedua pemain ini adalah warga negara Uruguay meski keturunan budak.

Begitu pun di Brazil, negara yang telah melahirkan banyak pemain kelas dunia, sejarah sepakbola juga di cemari oleh rasis. Kondisi ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah. Presiden Brazil, Epitácio Pessoa, melarang adanya pemain kulit hitam dalam tim Brazil yang akan mengikuti Piala Amerika tahun 1921 di Buenos Aires, Argentina.

Carlos Alberto misalnya, seorang pemain kulit hitam klub Fluminense, berusaha memutihkan wajahnya dengan tepung beras agar bisa bermain untuk klubnya. Hal ini menggambarkan betapa sepakbola Brazil penuh dengan sikap rasis tahun 1920-an.

Lambat laun, rasisme sepakbola mulai terkikis setelah pemain-pemain kulit hitam menunjukan kehebatan untuk memikat dunia diatas lapangan hijau dan memberikan kontribusi cukup besar bagi negara yang dibelanya sebagai wujud nasionalisme yang mereka miliki, terutama sejak digelarnya piala dunia 1930 di Uruguay. (zbc-Minggu, 6 Agustus 2006)

Takhayul dan Sepakbola, Diyakini karena Menambah Percaya Diri


TAKHAYUL memang di luar nalar manusia. Tapi, bagi sebagian orang, kepercayaan terhadap hal-hal berbau klenik atau magis dianggap bisa menambah kepercayaan diri. Padahal, bisa jadi hal itu hanya kebetulan semata.

Pemain Rumania yang memperkuat Juventus, Adrian Mutu, misalnya. "Sihir tak dapat menyentuhku karena saya menggunakan celana dalam yang dibalik," selorohnya. Di cabang sepak bola, hal itu mungkin terdengar biasa.

Namun, ulah Mutu tersebut bisa terdengar konyol di telinga atlet cabang lain. Bahkan, mungkin disebut gila.

Sepak bola sudah biasa dikaitkan dengan ritual-ritual tertentu, pendekatan agama, astrologi, ataupun jampi-jampi. Bahkan, hampir dipastikan di antara 32 tim yang tampil di Jerman pasti ada yang datang membawa koper berisi benda-benda takhayul.

Angka 13 Keberuntungan Zagallo
Selama ini, takhayul lebih populer bagi penduduk Afrika. Mereka sering memanfaatkan tenaga supranatural.

Tapi, kenyataannya sekarang gejala tersebut juga menular ke Eropa. Boleh percaya atau tidak,striker Timnas Spanyol Raul Gonzales dianggap bisa membawa nasib sial lantaran menggunakan t-shirt berwarna kuning, sama seperti yang dipakai pelatih Luis Aragones, pada latihan Minggu lalu.

Gejala itu juga melanda pemain Brazil. Tim yang paling tangguh di dunia itu juga masih percaya takhayul. Mantan bintang timnas Mario Zagallo, misalnya, begitu terobesi dengan angka 13. "Itu karena istri," katanya. Mengapa? "Saya mulai menggunakan nomor 13 karena istri saya jatuh cinta pada 13 Juli," katanya.

Dan, karena takhayul angka 13 pula, Zagallo begitu yakin Brazil bisa mempertahankan gelar. Alasannya sederhana. Yang pertama, nama pelatih Brazil saat ini, Carlos Alberto, terdiri atas 13 huruf. Kemudian, laga perdana Brazil melawan Kroasia berlangsung pada 13 Juni.

Keyakinan seperti itu pula yang pernah membuat mantan pelatih Argentina Carlos Bilardo sukses. Dia memakai salah satu koleksi dasinya yang dianggap membawa tuah. Dia mengenakan dasi yang sama pada sejak Piala Dunia 1986 dan 1990. Argentina berhasil juara dan yang terakhir masuk final.

Air Suci hingga Zodiak
Berbeda dengan mantan pelatih Italia Giovanni Trapattoni. Lebih dari sekadar dasi atau nomor keberuntungan, dia suka membawa air suci yang disimpan dalam botol. Air itu diperoleh dari adiknya yang menjadi biarawati. Praktik itu tentu saja menjadi kontroversi di negerinya.

Kebiasaan Pelatih Prancis Raymond Domenech malah lebih aneh lagi. Dalam penyeleksian pemain, dia juga mempertimbangkan zodiak para pemain sebelum membela Les Bleus. Robert Pires merupakan salah seorang korban kebiasaan nyeleneh Domenech.

Dia tidak dipilih karena berzodiak Scorpio. Menurut Domenech, pemain yang memiliki bintang Scorpio akan selalu berakhir dengan membunuh satu sama lain.

Pertimbangan yang sama juga membuat Johan Micoud terdepak. Berbintang Leo, gelandang Werder Bremen itu diprediksi bertemperamen tinggi. Domenech pernah menjadi pelatih Micoud sekitar 10 tahun lalu pada Piala Dunia U-21. "Sejak saat itu, saya tidak pernah dikontak-kontak lagi dengan dia."

Kalau pelatih saja seperti itu, apalagi para pemain. Siapa pun pasti masih ingat kebiasaan Laurent Blanc mencium kepala kiper botak Fabien Barthez sebelum bertanding pada Piala Dunia 1998. Entah kebetulan atau tidak, Prancis akhirnya tampil sebagai juara. 

Pada 1966, pemain Inggris Nobby Stiles juga melakukan ritual yang tak kalah unik. Dia melumuri dada, muka, dan lengannya dengan minyak buah zaitun. Rekan setimnya tak mau kalah. Jack Charlton biasa mengganti gantungan kalungnya (stud) menjelang pertandingan usai. Dalam setiap laga uji coba, dia selalu mencetak gol

Pemain Inggris lainnya, Gary Lineker, yang memenangi Sepatu Emas Adidas pada 1986, juga termasuk percaya takhayul. "Saat pemanasan, saya tidak pernah menembak bola ke arah gawang karena saya tak ingin menyia-nyiakan gol. Saya ingin menyimpan (tembakan) itu untuk membuat gol dalam pertandingan," ungkapnya.

Tidak hanya itu. Dia juga selalu mengganti kostumnya pada jeda turun minum. "Tapi, saya tidak menggantinya jika sudah mencetak gol pada babak pertama," jelasnya. Lineker juga punya cara sendiri untuk membuang sial ketika mulai tak produktif. Dia memotong rambutnya.

Terry: Saya Serba 50
Praktik semacam itu ternyata juga berlanjut hingga era pemain masa kini. Bek Timnas Inggris John Terry mengaku selalu hoki jika berurusan dengan angka 50.

"Saya memang percaya takhayul," katanya. "Saya selalu duduk di kursi yang sama di bus, membalut kaus kaki saya sebanyak tiga putaran, dan memotong pengaman tulang kering saya hingga berukuran sama setiap saya bermain. Dan, saya selalu mendengarkan lagu Usher di dalam mobil setiap hendak bertanding," beber pemain Chelsea itu.

Berkat takhayul pula membuat kiper Argentina Sergio Goycochea pada Piala Dunia 1990 mampu lolos hingga final. Namanya melambung karena sering menggagalkan penalti. "Kehebatan itu karena saya suka buang air kecil di lapangan melalui celah celana pendek."

Bagaimana Anda? Masih percaya terhadap takhayul


TAKHAYUL YANG DIYAKINI PEMAIN dan PELATIH:
1. Adrian Mutu, pemain Rumania, memakai celana dalam terbalik.
2. Mario Zagallo, mantan pelatih Brasil, kostum nomor 13.
3. Carlos Bilardo, mantan pelatih Argentina, memakai dasi yang sama.
4. Giovanni Trapattoni, Mantan pelatih Italia, membawa air suci pemberian biarawati.
5. Raymond Domenech, pelatih Prancis, menyeleksi pemain juga mempertimbangkan zodiak.
6. Laurent Blanc, mantan pemain Prancis, mencium kepala kiper Fabien Barthez.
7. Nobby Stiles, mantan pemain Inggris, melumuri dada, muka, dan lengan dengan minyak buah zaitun.
8. Pemain Inggris Mantan bintang Inggris -Tak pernah menendang bola ke arah gawang ketika pemanasan.
-Ganti kostum jika tak cetak gol pada babak pertama.
-Tak ganti kostum jika sudah cetak gol pada babak pertama.
-Potong rambut jika mengalami penurunan grafik penampilan.
9. John Terry, pemain Inggris, hoki dengan angka 50.
10. Sergio Goycochea, mantan pemain Argentina, buang air kecil di lapangan. (zbc-Rabu, 7 Jun 2006)

SE(X) PAK BOLA


APA hubungan sepak bola dengan seks? Atau, malah tidak ada hubungannya sama sekali? Kalau boleh memilih jawaban, saya lebih suka menjawab sangat dekat hubungan di antara keduanya. Sederhana, untuk mendapatkan seks yang oke, artinya bisa mencapai klimaks yang fantastis, hal pertama yang dibutuhkan adalah fisik yang prima. Nah, rasa-rasanya mustahil seorang pria bisa mempunyai tubuh yang bugar, prima, dan bertenaga tanpa olahraga yang teratur.

Kalau dalam sepak bola ada dua babak: 2 X 45 menit, ritual hubungan seks pun -sesuai aturan main yang berlaku- mesti melewati tiga babak: foreplay, intercourse, dan afterplay. Jangan tanya soal waktu yang diperlukan untuk melewati tiga babak tersebut. Bisa sejam, dua jam, atau malah lebih.

Untuk foreplay saja misalnya, kalau pasangan pria dan wanita memilih menggunakan teori "mandi kucing" ditambah "seks oral" saja, paling tidak butuh waktu sekitar 10-15 menit. Belum lagi kalau didahului adegan lapdance -menari-nari di atas pangkuan-, bisa-bisa menghabiskan waktu 20 menit.

Ketika masuk pada babak intercoursing, standar normalnya, seorang pria membutuhkan sedikitnya 300 dorongan. Itu berarti waktu yang diperlukan bisa sekitar 7-10 menit. Tapi, beberapa pria yang masuk kategori "luar biasa" bisa melakukan dorongan sebanyak 600 sampai 1.000 kali baru bisa ejakulasi.

Babak afterplay biasanya memakan waktu yang paling sedikit. Karena yang diperlukan paling-paling hanya kissing atau saling peluk setelah aktivitas intercoursing berakhir. 1 sampai 5 menit, mungkin sudah cukup.

Kalau dihitung-hitung, satu kali hubungan seks, rentang waktu yang dibutuhkan bisa 1-2 jam. Semua sangat bergantung kepada kekuatan dan fisik yang prima. Bagaimana mungkin pria bisa melakukan 600 dorongan kalau ternyata fisiknya loyo. Bagaimana seorang suami bisa membuat istri merasakan multiple-orgasm dalam satu kali hubungan seks -entah tiga atau empat kali- kalau tidak didukung oleh badan yang bugar.

Makanya, saya selalu percaya, sosok seperti Frank Lampard yang nyaris tak pernah absen bermain selama 2 X 45 menit saat membela Chelsea sangat mungkin "hebat" di tempat tidur. Saya juga tak ragu untuk mengatakan, Ronaldinho bisa melakukan 600 dorongan setiap berhubungan seks, bahkan mungkin lebih.

Memang, belum ada bukti konkret yang menyebutkan soal kekuatan seks Frank Lampard dan Ronaldinho. Tapi, kalau melihat aksi mereka di lapangan, mulai berlari tanpa henti mengitari lebar lapangan, melakukan umpan lambung, menggiring, tackling, sampai berebut bola di udara, saya yakin 99 persen, mereka juga sangat hebat saat bermain di ranjang. Wong di lapangan sepak bola yang lebar dan panjang saja jago, apalagi di lapangan yang lebarnya tak lebih 2 X 3 meter. Skill punya, fisik lebih dari memadai. Dua kombinasi yang pas untuk diterapkan saat melakukan foreplay, intercourse, dan afterplay.

Lagipula, berhubungan seks sebelum bermain bola bisa membuat performa lebih fresh dan bugar. Paling tidak, itu dianjurkan pelatih Brazil untuk World Cup 2006 Carlos Alberto Pereira kepada anak asuhnya. Jangan-jangan, rahasia sukses permainan cantik yang selalu ditunjukkan Ronaldo, Robinho, bahkan Kaka, selain karena talenta, mungkin salah satu di antaranya adalah berhubungan seks sebelum merumput di lapangan. Ups!!!

Jadi, mungkin tidaklah salah, Se(X)pak Bola -maksudnya seks dan sepak bola, kalau mau dirunut secara rinci, mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Coba saja kita tanya, kenapa pacar atau istri para pemain bola rata-rata cantik dan seksi. Kaya, mungkin jadi salah satu faktor. Tapi, saya lebih percaya faktor para pemain bola hebat dalam permainan seks, itu yang lebih utama. Pantas saja, Maradona diam-diam punya istri gelap (atau mungkin cuma pasangan one nite stand) saat masih bermain di Napoli, Italia, dan tak tanggung-tanggung, hubungan itu berbuah Maradona Junior. Cespleng dan tok cer! (Moammar Emka-zbc-Sabtu, 10 Juni 2006)

Sepakbola Telanjang Yunani


DI Mesir, permainan sepakbola mulai dikenal hampir bersamaan dengan permainan sepakbola di China. Berbagai peninggalan artefak di kuburan-kuburan Mesir menggambarkan sepakbola telah dikenal oleh Negeri Firaun itu sejak 2500 sebelum masehi. 

Memang tidak diketahui apa nama resmi permainan ini di Negeri Nil tersebut. Tapi yang jelas, di artefak kuburan tersebut ditemukan sebuah gambar yang bercerita tentang bola yang dimainkan oleh rakyat pada waktu itu. Bola tersebut terbuat dari kain. Selain itu ada juga bola yang dibuat dari jerohan binatang yang dibalut dengan kulit rusa. Bola ini diyakini mempunyai pantulan yang lebih baik dari bola dari kain. 

Dari China, kita pindah ke Yunani. Di awal tahun 2000 Sebelum Masehi, sepakbola juga sudah dikenal di Yunani. Orang Yunani menyebut permainan ini dengan nama Episkyros atau biasa juga dinamakan Phaininda. Permainan ini tidak hanya dimainkan oleh kaum lelaki, tapi kaum hawa pun banyak memainkannya. Namun yang unik, biasanya para pemain telanjang bulat saat memainkannya. 

Pada awalnya, Bola yang dipakai biasa dibuat dari kain dan rambut yang kemudian di jahit dengan benang. Namun karena kemampuan memantulnya yang jelek, mereka kemudian menggunakan kandung kemih binatang (babi atau rusa) yang kemudian dibalut dengan kulit binatang yang kemudian di pompa. 

Permainan pun dimainkan dengan teknik tinggi. Mereka memainkan bola dengan paha layaknya pemain sekarang melakukan “juggling.” Gambar-gambar Orang Yunani yang bermain sepakbola ini sekarang bisa dilihat di Museum Nasional Archeology di Athena. Gambar-gambar ini pula yang kemudian di masukkan menjadi salah satu “hiasan” di Trofi Piala Eropa. (zbc-Kamis, 27 April 2006)

Dari Calcio Sampai Sepakbola Rusuh Inggris


MASIH dengan pengaruh Sepakbola Harpastum a la Romawi, Bangsa Itali mengembangkan permainan sepakbola sekitar abad 16 Masehi. Sepakbola ini kemudian disebut sebagai “giuoco del Calcio fiorentino” atau biasa disebut sebagai “Calcio”. Orang Itali percaya bahwa tempat lahir Calcio ini adalah Piazza della Novere di Kota Florence.

Aturan permainan pertama di kenalkan pada 1580 oleh by Giovanni Bardi. Calcio dimainkan oleh 27 orang satu tim dengan menggunakan kaki dan tangan. Gol tercipta dengan cara melemparkan bola melalui titik yang didesain khusus di garis batas akhir lapangan.

Calcio ini pada awalnya dimainkan oleh kaum bangsawan dan orang-orang kaya. Bahkan di Vatican, Paus Clement VII, Leo IX and Urban VIII dikenal sebagai pemain Calcio ini. Karena dimainkan oleh para bangsawan dan orang kaya, Calcio ini mempunyai dampak internasional yang cukup besar. Bahkan seorang pelajar asal Inggris Richard Mulcaster, menyebut bahwa Calcio ini mempunyai pengaruh yang sangat besar pada Mob Football di Inggris.

Mob Football
Mob Football adalah jenis permainan sepakbola pertama yang dikenal di Inggris. Seperti namanya, permainan ini dianggap sebagai sebuah keributan besar. Mob football dimainkan antarkampung atau antarkota. Permainan yang biasanya dilakukan saat ada perayaan atau festival tertentu ini menggunakan kota sebagai lapangan permainan. Pemainnya pun semua penduduk kota!

Banyak cerita yang menyatakan bahwa warga desa harus menutup semua pintu dan jendela saat Mob Football ini dimainkan. Bahkan tidak jarang, mereka harus memasang pengaman di pintu dan jendela rumahnya.

Kedua tim mencoba untuk membawa bola ke alun-alun kota yang menjadi lawan atau mereka mungkin memainkan bola di bagian lain dari kota, namun lagi-lagi berpusat di alun-alun atau pasar kota.

Ada banyak teori tentang munculnya Mob Football ini. Ada kisah yang menyebutkan bahwa munculnya Mob Football ini sebagai perayaan kemenangan atas Romawi. Namun ada pula yang menyebut permainan ini muncul karena berhasil mengalahkan bangsa denmark. Dan bola yang digunakan adalah kepala dari para bangsawan denmark.

Namun permainan ini juga sangat berkaitan dengan ritual religi yang saat itu diyakini orang Inggris. Mereka percaya bahwa bola yang mereka tendang adalah perwujudan dari matahari yang harus ditaklukkan dan dibawa ke ladang untuk menjamin berhasilnya panen.

Ada juga kemungkinan Mob Football di bawa ke Inggris bersamaan dengan invasi orang-orang Norman dari Prancis. Hal ini didukung oleh adanya permainan yang sejenis di Prancis tidak lama sebelum Mob Football muncul.

Yang jelas sepakbola yang satu ini benar-benar brutal. Terbukti mulai tahun 1280 sampai 1312, terdapat banyak sekali catatan yang mengatakan bahwa sepakbola ini selalu diiringi dengan pembantaian besar-besaran. Para pemain selalu melengkapi diri dengan pisau yang diletakkan di ikat pinggang.

Kasus-kasus tersebut mungkin yang membuat para penguasa menjadi gerah. Pada tanggal 13 April 1314, Raja Edwar II menyatakan larangan memainkan Mob football. Kebijakan ini diteruskan oleh Edward III tahun 1349, yang diikuti oleh Henry I, Henry VI, dan James III. Permainan ini dilarang oleh kaum borjuis karena tidak adanya aturan yang baku serta budaya yang dianggap tidak sesuai dengan budaya kristen.

Baru pada abad 17, seorang bangsawan mencoba memperkenalkan aturan dalam permainan ini. Dia adalah Carew of Cornwall yang membuat aturan dengan melarang umpan ke depan serta dilarang menyerang pemain lawan dibawah pinggang. Namun peraturan ini belum bisa diterapkan secara umum di tanah Inggris sehingga kerusuhan masih saja terjadi.

Memang liku-liku perkembangan permainan sepakbola hingga kini dicintai oleh jutaan umat manusia. Terbukti tidak hanya hari ini, ribuan tahun yang lalu sepakbola telah menjadi permainan yang paling digemari didunia ini. (Guntur Utomo-zbc-Sabtu, 6 Mei 2006)

Foto, Diktator, dan Sepakbola


APA hubungan politik dan sepak bola? Puluhan foto yang dipamerkan di Museum Sejarah Jerman di Berlin mulai kemarin hingga akhir Juli nanti mencoba menjelaskan hubungan yang tak lazim itu.

Sore itu, akhir Juli 1982, di sebuah stadion di Warsawa, Polandia, tim tuan rumah tengah bersiap menghadapi uji coba melawan "saudara tua" mereka, Uni Soviet. Menjelang kick off, kedua tim berkumpul di tengah lapangan guna memberikan penghormatan kepada penonton.

1982 adalah tahun di mana komunisme masih memegang tampuk kekuasaan di pelosok Eropa Timur dengan Uni Soviet sebagai raja. Tapi, di sana-sini, kekuasaan komunisme yang sudah tampak lapuk dan letih dilawan, tak terkecuali di Polandia.

Maka, begitu para pemain kedua tim selesai memberikan salut, sebuah spanduk langsung berkibar di salah satu tribun yang berisi dua ribu penonton. Satu kata saja yang terpampang di spanduk itu: Solidarnosc.

Dalam bahasa Polandia, kata itu berarti solidaritas. Di belahan bumi lain, kata itu mungkin hanya merujuk kepada kesetiakawanan atau toleransi. Tapi, di Polandia pada 1982, Solidarnosc hanya berarti satu hal: serikat buruh yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan komunis yang sangat represif di negeri itu.

Seperti ditulis Reuters kemarin, secuil keberanian di Polandia itu seperti tersaji kembali di depan mata melalui beberapa foto yang dipamerkan di Museum Sejarah Jerman di Berlin kemarin. Puluhan foto di pameran ini bercerita tentang beragam peristiwa politik yang mengiringi perjalanan sepak bola dari masa-masa.

Sebuah foto Piala Dunia 1938 di Prancis, misalnya, memperlihatkan para pemain Jerman yang memberikan hormat ala prajurit Nazi. Bukan tepuk tangan yang mereka dapat, tapi teriakan ejekan bak suara kucing…..

Di masa itu, Nazi di bawah pimpinan Adolf Hilter memang tengah mempropagandakan diri melalui berbagai cara untuk mewujudkan ambisi mereka membentuk sebuah negara Jerman Raya. Austria baru saja dianeksasi sebelum Piala Dunia 1938 digelar.

Pelatih Jerman Sepp Herberger pun diperintahkan menurunkan line up yang separo berisi pemain Jerman, separonya lagi pemain Austria. Herberger berang atas intervensi ini. "Saya tak ubahnya mengarsiteki sebuah tim boneka," kata Herberger seperti dikutip situs resmi FIFA.

Intervensi Hitler tak berbuah manis. Jerman gagal menjadi juara. Tapi, infiltrasi politik ke lapangan hijau tak lantas berhenti. Sebuah foto perayaan Argentina menjadi juara Piala Dunia 1978 memperlihatkan bagaimana pelatih Cesar Luis Menotti menolak berjabat tangan dengan Jorge Rafael Vileda, diktator Argentina kala itu.

"Saya menganggap kemenangan Argentina saat itu sebagai langkah awal pendongkelan Valeda," ujar Menotti dalam salah satu wawancara.

Valeda berkuasa setelah melakukan kudeta militer dua tahun sebelum Piala Dunia 1978 digelar. Kekuasaannya mendapat resistensi keras. Bahkan, konon, pas partai final digelar pada 25 Juni 1978 di Stadion Monumental, Buenos Aires, sekelompok wanita menggelar protes menentang Valeda di luar stadion.

Begitulah, puluhan foto di pameran yang akan berlangsung hingga akhir Juli ini seperti membenarkan diktum selama ini: foto berbicara lebih banyak dibandingkan kata-kata. Baik yang berwarna maupun hitam putih, foto-foto itu merekam dengan baik emosi, suasana, dan pesan tersirat.

Seperti ketika kapten Timnas Jerman Franz Beckenbauer berjabat tangan dengan kapten Timnas Jerman Timur Bernd Bransch. Pesan yang mengapung lewat foto itu jelas: terpecahnya Jerman pasca Perang Dunia II.

Tapi, pameran ini tak hanya bicara tentang politik. Sebagian foto murni menggambarkan momen bersejarah sepak bola. Seperti ketika bintang Brazil Pele bertukar kostum dengan dengan kapten Inggris Bobby Moore di Piala Dunia 1970. Foto ini menyentuh karena seolah-olah melambangkan perpisahan Pele dengan ajang antarbangsa. Dan memang setelah Piala Dunia 1970 itu, Pele mundur dari Timnas Brazil.

Pedihnya kekalahan juga tergambar dengan baik lewat foto yang memperlihatkan reaksi wajah kiper Jerman Uwe Seeler usai ditundukkan Inggris di final Piala Dunia 1966. "Tanpa perlu berkata-kata, wajah dan bahasa tubuh Uwe Seeler sudah melambangkan betapa pahitnya sebuah kekalahan," ujar seorang komentator radio Jerman seperti dikutip Reuters. (zbc-Kamis, 18 Mei 2006)

Sepakbola Sebagai Alat Ibadah


TIDAK hanya di Eropa, permainan sepakbola pun dimainkan oleh Bangsa Amerika dengan catatan waktu yang hampir bersamaan. Sepakbola ini bernama Pok-A-Tok. Sekali lagi, melalui keramik-keramik kuno atau sekedar coretan-coretan di dinding, para ahli meyakini bahwa sepakbola telah dimainkan 3000 tahun sebelum masehi di benua amerika.

Namun lapangan sepakbola pertama di yakini baru di buat pada tahun 1600 Sebelum Masehi. Lapangan ini mempunyai panjang 80 meter yang mempunyai garis putih dan dibangun dan mengalami perkembangan selama kurang lebih 150 tahun. Lapangan ini ditemukan di Paso de la Amada (Meksiko). Para ilmuwan meyakini bahwa jenis lapangan ini merupakan lapangan standar di seluruh wilayah Meso-Amerika waktu itu.

Lapangan ini berbentuk seperti huruf kapital “I”. Di kedua sisinya berdiri dinding yang memagari lapangan. Dan pada dinding ini dipasang tiga cincin yang terbuat dari batu dengan tinggi 9 yard dari tanah. Para pemain mencetak skor dengan cara menyentuh cincin tersebut dengan bola atau mengumpan melalui lobang cincin.

Sayang tidak disebutkan berapa jumlah pemain yang boleh dimainkan dalam sebuah pertandingan. Namun yang lebih menarik, Pok-A-Tok ini dimainkan hanya dengan sikut, kepala, paha serta pinggul. Dengan kata lain, bola harus selalu berada di udara. Bola terbuat dari karet dengan diameter 10-15 cm.

Sepakbola di Benua Amerika ini dimainkan tidak sekedar untuk hiburan. Namun sebagai salah satu alat untuk beribadah, bersosialisasi, serta sebagai alat politik. Bangsa Mokaya (nenek moyang bangsa Olmec dan Maya) juga memainkannya dalam sebuah kompetisi. Jadi tidak sekedar sebagai alat rekreasi, namun sudah mengarah ke olahraga prestasi. Kapten tim yang kalah akan di hukum pancung, sedang kapten tim pemenang akan di anggap sebagai pahlawan.

Pada jaman bangsa Olmec, permainan ini juga dimainkan oleh sang kaisar. Malah, Sang Kaisar adalah salah satu pemain bintang. Kondisi inilah yang kemudian membuat perbedaan antara prajurit dan atlet berprestasi menjadi tipis. Mereka tetap dianggap sebagai pahlawan bagi rakyatnya.

Pada perkembangannya, bangsa Maya mengadopsi Pok A Tok ini pada tahun 250 -900 Sebelum Masehi. Dan Bangsa Aztec pun mengembangkannya dengan versi sendiri.

Selain di Amerika Tengah, sepakbola juga dimainkan oleh bangsa Indian di Amerika Utara. Mereka menyebut permainan ini dengan naman Pasuckuakohowog yang berarti berkumpul bersama memainkan bola dengan kaki. Permainan ini dimainkan pada awal tahun 1600-an. Biasanya mereka memainkannya di pantai dengan lebar gawang ½ mil dan jarak antaranya adalah 1 mil. Lebih dari 1000 orang memainkan permainan ini dalam satu waktu. Waktu permainan pun terkadang lebih dari sehari semalam sebagai bagian dari perayaan upacara tertentu. (Guntur Utomo-zbc-Rabu, 29 Mar 2006)

Tsu Chu Sepakbola Pertama di Muka Bumi


BARANGKALI tidak salah jika menyebut sepakbola sebagai permainan tertua di dunia. Bukan sekedar omong kosong, namun semua bukti mengarahkan kita untuk sepakat bahwa sepakbola adalah cabang olahraga yang sudah dimainkan puluhan ribu tahun yang lalu. Berasal dari peninggalan-peninggalan pra sejarah, para antropolog bisa melihat bahwa nenek moyang kita sudah menggemari olahraga nomer satu di dunia ini.

Memang Inggris lah yang kemudian di kenal sebagai negeri asal sepakbola, bukan karena di Negeri Pangeran Charles ini sepakbola dimainkan, melainkan orang Inggris lah yang pertama membuat aturan atas permainan ini. Dari negeri inilah kemudian berkembang sepakbola modern seperti yang kita kenal selama ini. 

Jauh sebelum orang Inggris memainkan permainan tendang-menendang bola ini, peradaban China lah yang pertama kali di yakini memainkan si kulit bundar ini. Berdasar peninggalan tertulis dari bangsa China, sepakbola sudah dimainkan di negeri tirai bambu ini sejak 2500 sebelum masehi.

Sepakbola di China waktu itu dikenal dengan nama Tsu Chu pada saat pemerintahan . Tsu berarti menendang bola dengan kaki sedang Chu mempunyai arti bola yang berasal dari kulit. Sepakbola waktu itu biasa dimainkan saat perayaan ulang tahun kaisar. Saat itu bola harus dimainkan 30-40 cm di atas tanah. Aturan itu pun kemudian berkembang dengan mewajibkan para pemain untuk memainkan bola 9 meter di atas tanah. Gawang terbuat dari bambu dengan jaring. Gol tercipta jika pemain berhasil meyarangkan bola ke gawang yang relatif kecil mengenai jaring Terlihat, sepakbola waktu itu dimainkan dengan skill dan teknik yang tinggi.

Baru pada pemerintahan Dinasti Ts’in (255 BC - 206 BC), Tsu Chu digunakan untuk melatih para tentara. Baru pada Dinasti Han (206 BC - 220 AD) Tsu Chu dimainkan secara luas oleh Rakyat China. Aturan sederhana mulai dikenalkan, yakni tidak boleh menggunakan tangan saat bermain. Dan semua bagian tubuh boleh digunakan untuk mencetak gol. 

Jepang Bermain Kemari 
Bangsa Asia lain yang ikut mengembangkan sepakbola adalah Jepang. Tahun 300 Sebelum Masehi-600 Sesudah Masehi mereka menyebut permainan ini sebagai Kemari atau Kenatt. Permainan ini dimainkan oleh maksimal 8 orang dengan menggunakan kulit rusa yang dibalut dengan serbuk gergaji sebagai bolanya. Diameter bola ini sekitar 9-10 inchi.

Para pemain harus menjaga agar bola tidak menyentuh tanah dan secara kolektif saling memberi umpan antara satu orang pemain dan pemain lain. Lapangan untuk bermain biasa di sebut sebagai Kikytsubo yang berbentuk empat persegi panjang dengan pepohonan ditanam di masing-masing sudut lapangan.

Menurut versi klasik, pohon yang ditaman hanya empat jenis, yakni cherry, maple, willow dan cemara. Saat Kemari di mainkan, para pemain mempunyai ucapan-ucapan khusus. Saat bola ditendang tinggi ke udara, para pemain mengatakan “Ariyaaa!” (ayo) sedang “Ari!” (ini) diucapkan saat memberi umpan pada pemain lain.

Masa keemasan Kemari terjadi pada abad 10-16 masehi. Permainan dimainkan di hampir seantero Jepang. Banyak puisi dan cerita dibuat berdasar permainan ini. Sekitar abad 13-14 masehi para pemain sudah mengenakan kostum khusus berdasar daerah asal. Bahkan ada catatan yang mengatakan bahwa bangsa Jepang telah memainkan Kemari melawan Tsu Chu China pada tahun 50 Sebelum masehi. Pertandingan ini diyakini sebagai pertandingan sepakbola internasional pertama di dunia. (Guntur Utomo-zbc-Sabtu, 8 Apr 2006)

Impian Letizia Bareng Ronaldo di Udara



KEKASIH baru Cristiano Ronaldo, Letizia Filippi, punya hasrat terpendam. Model Italia itu ingin melakukan hubungan seks di pesawat yang tengah mengudara.

Usai dikabarkan putus dengan Nereida Gallardo, Ronaldo tak butuh waktu lama untuk kepincut dengan gadis lain. Bintang Manchester United itu sudah langsung dikabarkan tengah dekat dengan Letizia. 

Gadis 30 tahun yang berprofesi sebagai model Italia itu sendiri awalnya masih malu-malu mengakui kedekatannya dengan Ronaldo. Tapi kini malu tersebut sepertinya sudah tiada seiring dengan pengakuan blak-blakan dari mulutnya.

"Kami sudah bertukar lusinan pesan (SMS) panas," ungkap Letizia seperti dikutip The Sun, Selasa (12/8/2008). 

Dari saling mengirim "pesan-pesan panas", khayalan Letizia dengan lakon utama dirinya dan Ronaldo pun muncul. "Impianku adalah naik pesawat pribadi, hanya kami berdua, dan 'melakukannya' di ketinggian. Akan jadi sangat romantis," lugas Letizia.

Nah, bagaimana, Ronaldo? (dtc-Selasa, 12 Agustus 2008)